Sabtu, 11 April 2015

5 Cara Mempersempit Jurang Digital Antara Anak dan Orang Tua



Jelas ada jurang atau kesenjangan digital antara kita (orang tua/guru) dan anak. Anak-anak kita adalah digital native, lahir ketika teknologi computer dan internet sudah ada. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang tidak lepas dari teknologi tersebut. Kita sendiri adalah generasi yang menikmati teknologi saat kita telah dewasa, bahkan berumur. Karena itu, layaknya “pendatang”, kita “digital immigrant” pasti membutuhkan penyesuaian dengan lingkungan baru.  Bagaimana cara memperkecil kesenjangan tersebut? Tidak bias tidak, kita perlu memahami karakteristik digital native. Pemahaman mengenai karakteristik ini akan membantu kita untuk menghadapai tantangan-tantangan berikut:


1.     Teknologi Menghapus Batas
Kita perlu menyadari bahwa teknologi menghapus batas dan menekankan batas-batas tersebut kepada anak dan remaja. Pada situasi tertentu, anak dan remaja tidak bisa lagi membedakan batas-batas itu. Misalnya kebiasaan bermain game di rumah yang tidak dibatasi berujung kebiasaan bermain game di kelas menggunakan handphone.

2.     Anak Lebih banyak Tahu
Anak-anak kita lahir dan tumbuh bersama teknologi. Mereka lebih piawai mengoperasikan handphone atau aktivitas online menyenangkan di internet. Bahkan, tidak sedikit diantara mereka tahu cara menghindar dari pantauan orang tua saat berinternet. Maka, kita perlu tahu trik-trik dan memahami bahasa isyarat  yang digunakan anak-anak saat berinteraksi di internet.

3.     Libatkan Diri Dalam Kehidupan Online  Anak
Kebanyakan orangtua tidak punya aturan jelas mengenai aktivitas berinternet di rumah. Al hasil anak-anak online tanpa pengawasan orangtua.  Membuka sembarang situs dan berkomunikasi dengan orang  yang tak dikenal. Sudah saatnya orang tua membangun komunikasi dengan anak mengenai kebutuhan mereka berinternet, aktivitas dan teman-teman mereka di dunia maya. Gunakan pertanyaan yang terbuka, tidak bersifat investigatif. Melalui komunikasi ini, anda dapat mengarahkan anak-anak ke situs-situs yang edukatif, menghibur dan cocok untuk usia mereka.

4.     Tahu Kapan Harus Bertindak
Kita perlu tahu kapan harus mengatakan “cukup” kepada anak. Ketika anak mulai susah beranjak dari layar computer untuk mengerjakan PR, atau memilih bermain game di rumah ketimbang bermain di luar bersama teman-temannya, tandanya anda harus bertindak.

5.     Era Prosumer
Di era user generated content, pengguna internet berperan sebagai konsumen sekaligus produsen. Setiap orang dapat memajang dan menerima video, foto, bahkan menghadirkan identitas palsu yang kerap menurut mereka adalah identitas ideal. Di sinilah kadang “batas-batas” menjadi kabur. Kita dapat membekali anak untuk berpikir kritis tentang aktivitas mereka di internet: apa yang mereka baca, bagi, dan di lihat di dunia maya.

(Disarikan dari “Mendampingi Anak dan Remaja di Era Digital”  Oleh YPMA 2011)

Pasted form: Majalah UMMI Spesial No.1 Tahun 2014, Hal 36